“Kalu bulih mikai Pakai Levis, Mikai Sampai Jugo ka ujung”

SAROLANGUN,- Dalam rangka memeriahkan hari raya idul fitri 1438 H tahun 2017 ini, sepertinya berbeda dengan tahun sebelumnya, pasalnya tahun ini hiburan masyarakat Sarolangun disungguhkan dengan aksi orang rimba atau sering kita sebut Suku Anak Dalam (SAD), perayaan Lebaran idul fitri tersebut diangkat dengan tema “Festival Beatrix”.

Dalam acara Festival Beatrix tersebut, para panitia yang terdiri dari Pemerintah Kabupaten Sarolangun melalui Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) menyediakan pemanjatan 10 Batang Pinang, kenapa 10 Batang pinang yang tersedia, dikarena dalam Kabupaten Sarolangun terdapat 10 Kecamatan.

Selain dari panjat batang pinang, acara puncaknya akan digelarkan besok pagi (hari ini, Red) dengan pacu perahu yang merupakan sudah turun menurun bagi masyarakat Sarolangun.

Saipullah Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga dalam sambutannya mengatakan, pihaknya sengaja mengangkat tema Festival Beatrix.

“kita memgingat sarolangun ini memiliki banyak sejarah, maka dari itu kami mengangkat tema tersebut dengan bertujuan untuk memperkenalkan leninggalan sejarah didaerah kita ini, dan ini akan berkelanjutan, “Ungkapnya

Sementara itu, yang menjadi pusat perhatian warga masyarakat Sarolangun dalam festival beatrix ini, adalah kehadiran Suku anak dalam yang berasal dari Kecamatan Air Hitam, sebelumnya warga SAD belum pernah ikut partisipasi dalam nuansa perayaan idul fitri ini.

Camat Air Hitam Suryadi kepada Hallojambi mengatakan, tujuan ia membawa orang rimba tersebut agar masyatakat tau seperti apa sosok asli orang rimba yang selama ini bisa dikatakan sebagian orang takut.

“yang pertama tujuan kami, untuk memperkenalkan asli orang rimba ini, orang rimba tidak perlu di takuti itu yang pertama, kemudian orang rimba ini sudah memahami dengan aturan, dan
orang rimba juga bisa di ajak komunikasi seperti kita, “Ungkap Suryadi

Tujuh orang rimba yang dibawa dalam acara tersebut, sebanyak tujuh orang serta kepala sukunya (Jenang).

“mereka ini berasal dari kelompok Selentik, salah satu nama mereka yakni yusuf, Bagenyeh dan dipimpin oleh jenang Jalaluddin, “Jelasnya

sekain itu, Camat Air hitam juga semoat mengatakan jika orang rimba yang dibawanya tersebut dalam panjat batang pinang sempat protes terhadap aksi pemanjat batang pinang lainnya, pasalnya pemanjat batangvpinanh dari pribumi menggunakan celana levus, sedangkan para kelompok Suku anak dalam menggunakan Cawat (Pakaian Tradisional SAD).

“Kalu bulih mikai pakai levis, mikai sampai jugo ka ujung, iko mikai cuma pakai cawat.(Kalau Boleh Kami Pakai Levis, Kami juga sampai keatas, ini kami disuruh pakai tradisional kami), “Ujar Suryadi seraya meniru ucapan SAD terhadap dirinya

Meskipun, panjat Batang pinang tidak sampai dilakukan dengan tuntas, para SAD tidak berkecil hari, bahkan ditahun depan SAD akan ikut dengan serba serbi peralatan tradisionlanya.

“ditahun depan kami akan tetap konsisten untuk tampail lavi, dan kami akan membawa tari tradisional kami untuk ritual sebelum memanjat, “Beber Camata (dar)

Updated: 5 Juli 2017 — 11:57
© 2016-2018, seputarmerangin.com Klick SM-TT DEPT
error: Jangan Suka Coppy Paste Berita Orang Broo...
%d blogger menyukai ini: