Tukang Las Mengais rejeki Di Alat Peti

Merangin – Bagi tukang las mendulang rejeki hanya mengandalkan pada konsumen,Yang membutuhkan tenaga untuk mengelas body mobil ,dan terkadang juga hanya mengandalkan konsumen yang pesan pagar besi atau teralis jendela,Namun itu juga bersifat musiman,Tentu saja membuat pendapatan mereka menjadi tidak stabil.

Tapi dengan banyaknya para penambang emas tanpa ijin (peti),Membawa berkah tersendiri bagi Imam Gombloh,Pemilik bengkel las di desa lantak seribu kecamatan Renah Pamenang.

Hampir setiap harinya dirinya mampu memperbaiki satu keongan (alat penyedot pasir),dengan upah yang cukup lumayan.

“Saya sudah tahunan membuka bengke las,Dan biasanya hanya mengandalkan pesanan teralis,Pagar besi dan juga pemilik mobil yang ingin mengelas kendaraannya,Tapi dengan adanya kegiatan peti membawa berkah bagi saya sebab pendapatan saya Alhamdulillah makin meningkat,setiap hari saya mampu memperbaiki satu set keongan dengan upah di atas Rp 1 juta”ungkap pria empat putri ini,(25/12).

Dengan penghasilan yang lumayan ini ,dirinya mampu menyekolahkan dua putrinya di salah satu pondok di Jawa timur.

“Bagi orang yang tidak suka dengan pelaku peti tentu akan ada penilaian miring soal aktifitasnya,Tetapi bagi saya ini merupakan anugrah apalagi di saat pendemi covid-19 seperti ini,Sangat membantu perekonomian saya”ujarnya lagi.

Bahkan untuk pendapatannya hasil las,Perbulannya lumayan dan bisa menumpang perekonomian keluarga dan biaya anak anaknya yang di ponpes.

” Kalau hasil lumayanlah,Dan hampir setiap harinya ada saja yang datang ke bengkel saya,Kadang sampai kewalahan untuk mencari plat besi tebal,sebab banyak yang minta di perbaiki alatnya,Apalagi bukan hanya warga lantak seribu yang datang namun dari desa terdekat banyak yang minta jasa saya untuk menyervis alat dompengnya”ungkapnya .

Baginya aktifitas peti ada sisi baik dan buruknya,Namun bagi warga tidak ada pilihan pada saat seperti sekarang.

” Sekarang ini bagi warga mendompeng jadi pilihan,Apalagi di tengah himpitan ekonomi mereka yang harus menyekolahkan anak dan juga kebutuhan lagi yang harus di penuhi, tapi jika ada solusi dari pemerintah tentu mereka akan berhenti,jika tidak ada solusinya mereka akan tetap mendompeng,Sebab tidak semua warga yang mendompeng memiliki lahan sawit dan kebun karet,Saya kira kita harus bijak saja dalam menyikapi masalah dompeng,Banyak yang mengantungkan rejeki di sana termasuk saya”ujarnya menutup percakapan.

admin1

Next Post

Dirugikan Pembuatan Sertifikat, Warga Lantak Seribu Tuntut Taufik CS Kembalikan Uang

Sab Des 26 , 2020
Merangin-Keinginan masyarakat untuk memiliki hak secara hukum untuk kepemilikan lahan sangat dibutuhkan oleh masyarakat. Hal ini seperti dirasakan oleh warga Desa Lantak Seribu kecamatan Renah Pamenang kabupaten Merangin, Jambi.Saat ini ada sekitar 33 warga Desa Lantak Seribu yang ingin membuat sertifikat secara mandiri untuk lahan perumahan. Namun mirisnya sejak tahun […]