Pro kontra penggalian PAD, Samono: kunci desa Maju adalah Kerjasama yang baik dari masyarakat

Merangin_ Pemerintah Republik Indonesia telah menggelontorkan Dana hingga triliunan rupiah ke setiap desa yang ada di seluruh Indonesia,dimana manfaatnya diprioritaskan untuk pembangunan infrastruktur dan pemberdayaan masyarakat,

Hal ini guna meningkatkan kesejahteraan masyarakat, kualitas hidup, serta penanggulangan kemiskinan, yang dituangkan dalam Rencana Kerja Pemerintah Desa

Walau Setiap Desa telah ditunjang Dana Desa oleh Pemerintah pusat dan diberikan kewenangan dalam pengelolaannya, namun desa dituntut harus bisa menggali potensi dan inovasi yang ada didesa untuk menambah inkam / pendapatan Asli Desa sendiri.

Hal inilah yang mendorong Samono selaku Kepala Desa Lantak seribu menggali potensi yang ada di desanya untuk mencari sumber PAD guna memenuhi kebutuhan baik sosial maupun Operasional perkantoran agar pelayanan masyarakat dapat dilakukan dengan semaksimal mungkin.

Sambil menyelam minum air, pepatah ini yang mungkin digunakan oleh Samono,mengapa tidak, sebab dengan adanya kegiatan pengerukan pasir sungai / rasau bisa memberikan pendapatan desa dan sekaligus menormalisasi sungai tersebut,

Pasir dan batu hasil pengerukan yang menyumbat aliran sungai dijual kepada warga dengan harga yang terjangkau, berapa titik jalan yang rusak dilakukan penimbunan dengan batu sungai tersebut tanpa harus membayar materialnya, serta bukan itu saja, ketika intensitas curah hujan yang cukup tinggi mampu mangatasi banjir yang selama ini terjadi.

Saat diwawancarai awak media Disela sela tugas kantornya selasa 28 /04 / 2020. Samono mengatakan bahwa Normalisasi sungai yang dilakukan ini untuk mengatasi banjir yang sering terjadi Ketika curah hujan cukup tinggi, dan menggenangi badan jalan hingga berpotensi merusak aspal,

sedangkan Sirtu hasil pengerukan dijual ke masyarakat dengan harga yang terjangkau, sehingga pendapatan yang dihasilkan bisa menunjang kegiatan yang tidak terealisasi melalui dana desa.

“Normalisasi sungai yang kami lakukan untuk mengatasi banjir yang selama ini merendam jalan aspal ketika curah hujan tinggi sedangkan Sirtu kita jual ke masyarakat dengan harga terjangkau dan hasil dari penjualan tersebut masuk ke Pendapatan Asli Desa (PAD) untuk kegiatan-kegiatan Desa lainnya dan sebagaian material dari sungai tersebut untuk membantu pembangunan masjid, mushola serta penimbunan jalan berlubang, Tukasnya

Ketika dimintai keterangan mengenai isu-isu yang beredar tentang di penarikan biaya pengambilan batu untuk kepentingan umum seperti penimbunan jalan, Samono menegaskan bahwa untuk material tidak dikenakan biaya, beda halnya dengan amprah mobil,karna itu beda urusannya

“Ya kalau kepentingan umum seperti masjid, mushola dan jalan, Material seperti Pasir dan Batu tidak kami kenakan biaya yang penting ada memo dari saya,jadi saya bisa mengetahui benar atau tidaknya untuk kepentingan umum atau Pribadi sedangkan untuk amprah mobil silahkan rundingan sendiri kepada Armada itu,dan iini diluar wewenang saya,jelas Samono

Lporan (budi)

Updated: 28 April 2020 — 18:35