Ketika Replanting Sawit Tak Kunjung Terealisasi

Sawit

Foto By Net

PERKEBUNAN kelapa sawit menjadi mayoritas mata pencaharian masyarakat Kabupaten Merangin.

Badan Pengelola Dana Perkebun (BPDP) mencatat, luas lahannya mencapai 53.028 hektar dengan produksi sebanyak 174.719 ton pertahun.

Kini, usia tanaman sawit rata-rata diatas 20 tahun keatas. Tingkat produktivitas tanaman pun jauh menurun. Saat ini, harga tandan buah segar (TBS) ditingkat petani hanya berkisar Rp 900 perkilogram.

Untuk periode 22 – 28 Januari 2016, pemerintah mematok TBS Rp 1.338 perkilogram untuk usia sawit diatas 20 tahun. Disinilah para pebisnis TBS bermain. Hingga akhirnya petani yang menjadi korban.

Seperti kata pepatah, sudah jatuh tertimpa tangga, produksi kebun menurun, harga ‘dibisniskan’, program replanting pun tak jelas juntrungannya.

Data dari Dinas Perkebunan dan Kehutanan Kabupaten Merangin mencatat, pada tahun 2017, separuh dari luas perkebunan sawit di Kabupaten Merangin sudah memasuki masa replanting.

Sayangnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Merangin seolah lamban mengurusi program pro rakyat ini.

Padahal, pada tahun anggaran 2015, BPDP Kelapa Sawit menyediakan bantuan dana replanting Rp 52 juta perhektar. Alokasi dana yang disediakan untuk membantu biaya replanting seluas 15.000 hektar. Sisanya didapat dari Kredit Usaha Rakyat (KUR) Perbankan atau dana sendiri.

Tak hanya bergantung dari program BPDP, Pemkab Merangin juga dapat menerapkan sistem kemitraan seperti yang telah dijalankan selama ini.

Memang, program kemitraan itu sudah pernah ditawarkan kepada petani. Namun, progressnya terkesan putus ditengah jalan.

Kini, ditengah ketidakpastian harga dan program pemerintah, petani hanya bisa pasrah. Sebagian dari mereka sudah mulai dihantui oleh nasib mereka kedepannya.

Semakin lama program replenting ini dilaksanakan, selama itu pula nasib petani kedepannya  terkesan diabaikan.

Semakin hari, kebutuhan hidup semakin meningkat. Bertambahnya anggota keluarga, bertambah pula biaya hidup. Biaya pendidikan dan biaya kesehatan juga mahal. Beban tanggungan hidup semakin besar.

Sementara, pendapatan keluarga terus mengalami penurunan. Petani berharap pemerintah dapat dengan sesegera mungkin melakukan replanting.

Sebab, mayoritas petani tidak memiliki dana pribadi untuk melakukan replanting. Satu-satunya harapan petani adalah program bantuan dari pemerintah.

Jika replanting ini tidak segera dilakukan, maka para petani akan tetap bertahan dengan kebun yang ada. Imbasnya, perekonomian pun menurun yang berdampak pada aspek-aspek sosial dan kemasyarakatan.

Seputarmerangin: Editor

Updated: 25 Januari 2016 — 15:53