Kerugian Banjir di Merangin Capai Rp98 Milliyar

Peristiwa

IMG_0464

JAMBI– Derasnya guyuran hujan yang melanda di Provinsi Jambi belakangan ini, hingga menyebabkan meluapnya air sungai yang mengakibatkan terjadinya banjir di pemukiman warga, terutama yang bertempat tinggal dibantaran sungai, ternyata telah menyebabkan kerugian mencapai Millyaran rupiah. Hal ini diungkapkan oleh Arif Munandar,Kepala Badan Penanggulangan Bencana  Daerah (BPBD) Provinsi Jambi, saat dionfirmasi Senin(28/3).

Dikatakan Arif, meskipun data kerugian yang dihimpun pihaknya saat ini belum valid, lantaran masih menunggu laporan dari BPBD Kabupaten/Kota, Namun tambahnya berdasarkan laporan yang telah diterima pihaknya dari salah satu kabupaten, yaitu Kabupaten Merangin, akibat bencana banjir telah menyebabkan kerugian hingga Rp98 Milliyar. Angkat kerugian Millyaran rupiah tersebut tuturntya adalah angka kerugian dampak bencana banjir yang terjadi pada tahun 2016 ini.

“Kalau data valid secara pasti saat ini belum ada, lantaran pihak kita masih menunggu laporan dari pihak BPBD Kabupaten/Kota yang terkena dampak banjir. Tetapi dari laporan yang sudah kita terima, seperti di Merangin, kerugiannya mencapai 98 Milliyar,” ungkap Arif saat dikonfirmasi sejumlah wartawan.

Menyikapi kerugiannya ini tambahnya tentu membutuhkan bantuan dari semua pihak, baik dari Pemerintah Kabupaten, Provinsi maupun Pusat. Sementara disebutkannya bahwa di Provinsi Jambi saat ini terdapat sebanyak 348 Desa dan 50 Kecamatan yang wilayahnya sangat rawan terjadi bencana banjir.

“Untuk diprovinsi Jambi terdata sebanyak 348 dan 50 kecamatan yang rawan banjir, diantaranya ya, seperti di desa Batu kerbau Kabupaten Bungo, Desa Limun di Sarolangun dan Kabupaten Merangin yang terjadi di Tabir barat, Muara siau, dan pemenang. Banyak lagi Daerah-daerah rawan lainya,” sebutnya.

“Bahkan ada disuatu wilayah, di satu lokasi dalam setahun itu terjadi banjir 3 sampai 4 kali,” sambungnya.

Terakhirnya, Arif menghimbau kepada seluruh masyarakat agar dapat menghindari untuk melakukan pembangunan rumah dipinggiran sungai dan dataran rendah yang rawan banjir. Sebab tambahnya pemabngunan rumah zaman dahulu dan zaman sekarang sudah sangat jauh berbedanya.

“Tentu kita menghimbau jangan lagi membangun rumah dipinggiran sungai dan dataran rendah yang rawan banjir. Kalau dulu orang bangun rumah, jaraknya jauh dari sungai dan itu rumah panggung, kalau sekarang tentu harus berbeda, rumahnya modern. Sementara kita tidak tahu ada aktivitas apa dibantaran ulu sungai,” himbaunya singkat.

 

(Apo)

 

Author

Related Articles

Back to Top