Ini Tanggapan Rotani Yutaka Soal HUT Merangin

Utama
merangin lamo 2 merangin lamo
MERANGIN – Perbedaan pendapat tentang Hari Ulang Tahun Kabupaten Merangin antara Executiv dan Legislatif mengundang reaksi dari Bupati Merangin Periode 1998 – 2008, Rotani Yutaka.
 
Ia yang sengaja menghubungi redaksi Seputarmerangin.com mengaku tidak bermaksud untuk mencampuri urusan pemerintahan. Rotani hanya ingin memberikan gambaran tentang sejarah Kabupaten Merangin.
 
Rotani bertutur, pada tahun 1946, Provinsi Jambi yang saat itu bernama Kresidenan hanya memiliki dua Kabupaten. Yakni Kabupaten Batang Hari dan Kabupaten Merangin. Kresidenan Jambi masuk dalam wilayah Provinsi Sumatera Tengah.
 
Lalu, berdasarkan Undang-Undang Nomor 18 tahun 1958, dibentuklah Provinsi Daerah Tingkat I Jambi yang terdiri dari Kabupaten Batang Hari, Merangin  dan Kabupaten Kerinci. Khusus untuk Kabupaten Merangin, wilayahnya mencakup empat Kabupaten yakni Kabupaten Sarolangun, Merangin, Bungo dan Tebo. Ibu Kota Kabupaten Merangin saat itu berada di Kota Bangko.
 
Dalam perjalanan sejarah, pada tahun 1958 terjadilah Pemberontakan Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia (PRRI). Saat itu, Kota Bangko dibumi hanguskan oleh PRRI. Kantor Bupati Merangin yang saat ini menjadi kantor Dinas Pariwisata dikawasan Ujung Tanjung pun dibakar.
 
Melihat gejolak pemberontakan yang dilakukan PRRI di Kabupaten Merangin, Pemerintah Pusat kemudian memintahkan ibu Kota Kabupaten Merangin ke Bungo. Bupati dan DPR saat itu ikut pindah ke Bungo tanpa ada perubahan posisi jabatan. Kemudian, pemerintah pusat juga menurunkan Resimen Penggempur Komando Anggatan Darat (RPKAD) untuk merebut kembali kota Bangko dari tangan PRRI.
 
RPKAD yang merupakan cikal bakal Komando Pasukan Khusus (Kopasus) itu berhasil mengusir PRRI. Kota Bangko yang sebelumnya menjadi Ibu Kota Kabupaten Merangin turun ‘pangkat’ menjadi Kewedanaan. Sementara, Kota Bungo menjadi Ibu Kota Kabupaten Merangin.
 
Pada tahun 1965, Kantor Bupati Merangin dikawasan Ujung Tanjung Kota Bangko yang sempat dibakar oleh PRRI dibangun kembali sebagai persiapan Kantor Bupati Sarolangun Bangko (Sarko).
 
Berdasarkan UU No. 7 tahun 1965, lahirlah Kabupaten Sarolangun Bangko (Sarko) yang ibukotanya dipusatkan di Kota Bangko. Sementara, masih ditahun yang sama, Kabupaten Merangin (lama) yang beribukota di Bungo hilang dan berubah menjadi Kabupaten Bungo Tebo.
 
Lalu, dengan adanya pemekaran wilayah sesuai dengan UU No. 54 tahun 1999 tentang pembentukan Kabupaten Merangin, Kabupaten. Sarolangun, Kabupaten Tebo dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur. Kabupaten Sarko pun dimekarkan menjadi dua yaitu Kabupaten Sarolangun dan Kabupaten Merangin.

Rotani yang saat itu menjabat sebagai Bupati Sarko tidak mengambil nama Kabupaten Bangko sebagai Induk dari Kabupaten Sarko. Setelah berkoordinasi dengan tokoh adat dan tokoh sejarah, Rotani pun sepakat mengambil nama Merangin untuk mengenang sejarah Kota Bangko yang pernah menjadi Ibu kota dari Kabupaten Merangin (lama).

 

Kata Rotani, Kabupaten Merangin yang saat ini adalah Induk dari Kabupaten Sarolangun Bangko (Sarko), hari jadinya tanggal 5 Agustus 1965. Rotani yang sebelumnya menjadi Bupati Sarko secara otomatis juga ikut berubah menjadi Bupati Merangin.

 

 
Sepuarmerangin: Zakhrowi

Author

Related Articles

Back to Top