Himpunan Mahasiswa dan Pelajar Merangin Desak Cabut Piagam Sungai Tebal

Utama

IMG_20160401_075353

JAMBI- Himpunan Mahasiswa Pelajar Merangin (HMPM) Jambi desak Pemerintah Merangin untuk segera mencabut kembali piagam Sungai Tebal yang dilakukan tahun lalu. Pasalnya piagam penyesuaian adat pendatang dan pribumi tersebut dinilai telah menjadi bumerang bagi warga Luhak 16.

 

Hal ini diungkapkan oleh Very ketua HMPM Jambi saat dikonfirmasi, Seputarmerangin.com, Kamis (31/03) kemarin. Dikatakannya bahwa berbuntut dari penanda tanganan Piagam Sungai Tebal tersebut, ternyata membuat pendatang itu merajalelah dan merasa memiliki hak di tanah Tali Undang Tambang Teliti, dampaknya sekarang ini hutan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) dirambah oleh oknum tidak bertanggung jawab yang tidak lain adalah sejumlah oknum pendatang tersebut.

 

“Kami meminta kepada Pemerintah Merangin untuk segera mencabut kembali Piagam Sungai Tebal. Sebab semenjak penanda tanganan Piagam tersebut telah membuat para eksodus ini merajalela dan seenaknya saja merambah hutan yang selama ini kami (Pribumi.red) jaga dengan baik,” ungkap Very tegas.

 

Sementara dikonfirmasi tanggapannya terkait, masyarakat pribumi Merangin, tepatnya di Desa Tanjung Berugo, Kecamatan Lembah Masurai, yang mendapat ancaman dari perambah hutan TNKS, lantaran mencoba melakukan pencegahan terhadap perambah, Dengan lantang dirinya mengatakan bahwa masyarakat tidak boleh takut dan harus melawan.

 

Sebab tambahnya bila hal ini dibiarkan akan menjadi konflik besar bagi masyarakat Merangin, khususnya warga pribumi yang bermukim di pinggiran kawasan tersebut. Sebutnya bahwa dalam waktu dekat ini HMPM juga akan melakukan penyebaran selebaran kepada masyarakat tentang perlawanannya kepada para perambah hutan.

 

“Masyarakat harus melawan, kita tidak boleh membiarkan para perambah ini melakukan aktivitasnya seenaknya saja. Kita juga akan sampaikan perlawanan kita terhadap perambah melalu selebaran nanti,” pungkasnya.

 

Dia menambahkan bahwa Pemerintah harus dapat menyikapi hal ini secara tegas, serta untuk segera menangkap para perambah hutan tersebut dan diberi sanksi hukum.

 

“Pemerintah harus sikapi kondisi ini, tangkap para perambah hutan dan beri sanksi tegas sesuai undang-undang yang berlaku,” ketusnya lagi.

 

Terpisah, salah satu warga Tanjung Berugo yang tidak mau disebutkan namanya, bahwa kondisi aktivitas warganya sudah mulai normal, namun begitu sebutnya masyarakat selalu siaga mengantisipasi terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.tidak hanya itu tambahnya, warga juga mendapat pengawasan ketat dari pihak aparat.

 

“Aktivitas warga sudah mulai normal, namun kita masih tetap waspada. Kita juga mendapat pengawasan dari pihak yang berwajib,” tutupnya.

 

(Apo)

Author

Related Articles

Back to Top