Dimasa Pandemi Covid-19,Pekerja Buruh Panen Sawit Tetap Bersyukur Walau Upah Tak Sebanding

MERANGIN-Upah Buruh Harian Lepas (BHL) pemanen sawit lahan pribadi dibeberapa wilayah Kabupaten Merangin dirasa tak sebanding dengan Resiko pekerjaan tersebut, mengingat dibutuhkannya konsentrasi penuh, tingkat kefokusan dan trik-trik yang benar ,karna salah-salah nyawa taruhannya karna semakin tinggi pokok pohon maka semakin tinggi pula tingkat resikonya, sebab pelepah serta tandan buah sawit tersebut sulit diprediksi arah jatuhnya sehingga membutuhkan kesigapan serta konsentrasi penuh.

Hal inilah yang membuat upah Buruh Harian Lepas (BHL) pemanen kelapa sawit semakin mahal walau tetap tak sebanding dengan resikonya begitu pula dengan Medan lokasinya, semakin extrim maka semakin mahal pula upahnya.

Salah satu buruh panen  kelapa sawit Gunadi, kepada media ini mengatakan bahwa setiap pekerjaan tetaplah beresiko, walaupun resiko pekerjaan ini dirasa tak sebanding dengan upahnya namun tetap dikerjakan karna pekerjaan ini adalah sumber kehidupannya yang penting tetap waspada dan berhati-hati. Sabtu (22/08/2020)

“Ya walaupun upah dirasa tak sebanding dengan resikonya,ya tetap bersyukur dan berhati-hati dalam bekerja sebab pekerjaan ini sumber penghidupan saya sehari-hari,dan untuk upah tenaga panennya itu dilihat dari Medanya serta tinggi pokok pohonnya, untuk 10 M ke atas rata-rata Rp.150.000 dan untuk 10 M kebawah rata-rata Rp.120.000,” jelas gunadi.

Hal itu juga dibenarkan oleh Sahuri,salah satu pemilik kebun kelapa sawit yang mana upah untuk tukang panen sawit disesuaikan dengan upah buruh panen lainnya.

“Kalau saya yang jelas saya ikut umumnya gimana, kalau umumnya Rp. 150.000/ton saya juga begitu sebab upah buruh panen tetap stabil dan tidak terpengaruh dengan turun naiknya harga TBS,jika harga TBS turun upah panen tetap segitu begitu juga sebaliknya,”tutup Sahuri.

Penulis    : Budi

Editor     : Bule

Updated: 22 Agustus 2020 — 13:44