Bupati Pantau UN SMP Hari Kedua

Pendidikan

Bupati Merangin H Al Haris memantau pelaksanaan UN SMP hari kedua

BANGKO-Bupati Merangin H Al Haris Selasa (10/5), memantau pelaksanaan Ujian Nasional (UN) pelajar Sekolah Menengah Pertama (SMP) di sejumlah sekolah. Pada hari kedua itu, bupati tidak hanya memantau pelaksanaan UN tapi juga kondisi sekolah.

Pertama bupati dan rombongan sekitar pukul 07.45 Wib bertolak ke SMP Negeri 43 Merangin. Di SMP yang berada di kawasan Sungai Ulak tersebut, bupati disambut kepala sekolah Warnida dan para menjelis guru.

Setelah sempat berbincang-bincang dengan pihak sekolah, bupati langsung menuju kelas dimana anak-anak tengah mengikuti pelaksanaan UN. ‘’Ayo yang semangat, isi yang benar jangan sampai salah,’’ ujar Bupati kepada para peserta UN.

Bupati terus memberikan motivasi kepada anak-anak di setiap kelas yang dimasukinya. Di SMP 43 Merangin itu, ada sebanyak 122 orang anak yang mengikuti UN, tidak satu orang anakpun yang absen.

Pada kesempatan itu bupati minta kepala sekolah bersiap-siap untuk penyelenggaraan UN tahun depan, SMP Negeri 43 harus sudah siap melaksanakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK). Untuk itu, berbagai fasilitas harus sudah disiapkan sedini mungkin.

‘’Tahun ini yang melaksanakan UNBK SMP Negeri 4, untuk tahun depan saya harapkan SMP Negeri 43, SMP Negeri 1 dan SMP Negeri 2 Merangin harus sudah siap melaksanakan UNBK,’’ pinta Bupati.

Sekitar pukul 08.20 Wib, rombongan bupati bertolak ke SMP Negeri 20 Merangin. Tiba di SMP yang berada di Desa Guguk Kecamatan Renah Pembarap, bupati disambut kepala sekolah dan para majelis guru.

Di SMP itu harusnya ada sebanyak 40 orang anak yang mengikuti UN, namun ada enam anak yang tidak mengikutinya. Menurut keterangan Kepala SMP Negeri 20 Merangin Endah Widyati, keenam anak itu, dua  anak sudah pindah ke pesantren.

Sedangkan dua anak lagi memang sudah berhenti sekolah sejak naik kelas tiga dan dua orang anak lagi berhenti karena dinikahkan oleh orang tuanya. Mendengar ada anak SMP yang sudah dinikahkan itu, bupati kaget.

‘’Anak SMP kelas tiga itu usianya baru 15 tahun, masih dibawah umur untuk menikah. Meskinya pihak Kantor Urusan Agama kecamatan, tidak menikahkan anak masih dibawah umur,’’ jelas Bupati.

Terkait hal tersebut, bupati memberikan motivasi kepala sekolah SMP Negeri 20 untuk bekerja semaksimal mungkin. Para guru dan kepala sekolah harus bisa menjadi orang tua para anak-anak di sekolah.

Artinya lanjut bupati, para guru dan kepala sekolah mestinya bisa menghalangi terjadinya pernikahan dibawah umur tersebut. ‘’Bekerja yang iklas dan mengabdilah untuk masyarakat,’’ pinta Bupati kepada kepala sekolah.

 

(teguh/humas)

Author

Related Articles

Back to Top