Balai Desa di Desa Merkeh Jadi Objek Cari Keuntungan

Pemerintahan
 Balai desa
MERANGIN – Pembangunan balai desa di Desa Merkeh Kecamatan Renah Pembarap terkesan menjadi objek untuk mendapatkan keuntungan. Pasalnya, kayu yang digunakan untuk rangka atap merupakan kayu yang tidak jelas tingkat kualitasnya. Pekerjaan plester dan pasangan bata juga dikerjakan asal jadi.
 
“Dari seratnya saja sudah terlihat kalau kayu yang digunakan mudah patah. Setelah itu, harganya juga murah. Berkisar Rp 1, 2 juta perkubik. Padahal, kayu yang seharusnya digunakan itu harganya berkisar Rp 2 juta perkubik,” ujar sumber yang sengaja tidak disebutkan namanya.
 
Selain jenis kayu yang digunakan, pekerjaan plaster bangunan juga dikerjakan asal-asalan. Pada pasangan dinding bata atas tidak menggunakan slop yang diganti dengan kayu balok lama, tambahnya.
 
Pejabat sementara (PjS) Kepala Desa Merkeh, Lukman membantah tidungan tersebut. Dengan nada emosi, Lukman menyebutkan bahwa dirinya banyak menggunakan dana pribadi untuk membangun Balai Desa tersebut.
 
“Pekerjaan ini pekerjaan lanjutan. Jangankan cari untung, saya juga mengeluarkan uang pribadi untuk memesan kusen pintu. Ngecor dan nimbun tanah tidak ada dalam anggaran, tapi saya kerjakan juga,” kilah Lukman.
 
“Kayu yang dipakai itu kayu meranti baru semua, bukan kayu murahan,” hardik Lukman yang menurut pantauan dilokasi tidak sesuai dengan fakta.
 
 
Seputarmerangin: DZA

Author

Related Articles

Back to Top